From Zero to Hero

Di kantor saya, rata-rata semua cowok tergila-gila pada Superman. Buat mereka tokoh yang baru saja diperankan oleh Brandon Routh itu adalah the real superhero, bahkan ada yang pernah beberapa hari berturut-turut memimpikan terbang bersama cowok bercawat merah itu seusai nonton Superman Returns (it’s weird, isn’t it?).
 
Ok, di sini saya tidak akan berbicara tentang superhero itu, namun berangkat dari situ saya ingin menunjukkan bahwa banyak superman dalam kehidupkan nyata yang bisa menjadi inspirasi untuk kita semua.
 
Pada awal tahun 1900-an, Albert Einstein adalah siswa yang biasa-biasa saja bahkan dia lulus dengannilai yang pas-pasan. Saat di universitas bahkan ada dosen yang tidak memperhitungkannya, tetapi seperti yang kita tahu Einstein bisa mencatat sejarah sebagai seorang fisikawan hebat.
 
Pada tahun 1954, lahir seorang wanita kulit hitam yang kemudian harus menjalani masa kecil yang suram. Hidup dalam kemiskinan, dilecehkan, bahkan hamil dan keguguran di usia yang masih sangat belia. Namun derita hidupnya justru membuat dia ingin menaklukkan dunia. Dan kini ia menjadi ikon talkshow dunia yang acaranya ditonton puluhan juta orang di dunia. Siapa yang tidak kenal Oprah Winfrey?
 
Pada tahun 1962, sekelompok pemuda asal Liverpool mendapat cemoohan dari banyak perusahaan rekaman yang menilai gaya bernyanyi dan bermain musik mereka tidak ada apa-apanya dan tidak akan bisa berbicara banyak di dunia. Namun, cemoohan itu justru membuat mereka menjadi superstar, the Beatles yang sampai saat ini terus dikenang.
 
 
Pada tahun 1996, seorang guru asal Inggris, menggegerkan dunia dengan tokoh rekaannya Harry Potter. Joane K. Rowling, seorang wanita yang harus menjadi single parent dan menumpang di rumah saudaranya, menuangkan ide-idenya melalui sebuah mesin tik tua, dan kemudian harus menerima kekecewaan berulang-ulang saat tak ada penerbit yang merepons naskahnya. Bahkan ada yang menganggap naskahnya aneh dan tidak pantas diterbitkan. Namun, saat ini siapa yang tidak kenal dengan tokoh anak laki-laki berkaca mata bundar hasil imajinasi Miss. Rowling?
 
Melihat kisah beberapa tokoh super di atas, kita bisa melihat bahwa untuk mencapai level itu tidak secepat kecepatan terbang superman atau tidak semudah membalikan telapak tangan. Semua butuh proses. Proses yang membutuhkan waktu, keberanian, kekuatan diri. Hidup inilah proses. Dalam hidup, kita seperti memasuki sebuah lorong. Lorong yang di dalamnya tidak hanya ada tawa dan canda yang membuat kita betah, tetapi juga dihiasi dengan patah hati, kekecewaan, kesedihan, penolakan, dan penderitaan. Dan keputusan ada di tangan kita, apakah kita akan mundur karena tidak kuat menahan kecewa dan derita atau kita terus berani menyusuri lorong itu dengan tekad di dalam hati bahwa kita akan menjadi pemenang. Dua pilihan ini lah yang pada akhirnya akan menentukan kita menjadi orang yang “biasa-biasa saja” atau menjadi seorang yang luar biasa. Perlu diingat bahwa adversity builds character. Dan pada dasarnya proses pembentukan sangatlah tidak menyenangkan, menyakitkan, dan penuh air mata. Namun setelah proses pembentukan itu selesai, kita akan takjub melihat diri kita yang baru.
History is written only by the winners.
 
The world needs heroes and it’s better they be harmless men like me than villains like Hitler.
Albert Einstein, Quoted in H Eves Return to Mathematical Circles (Boston 1988).
 

Dibaca 487 kali.


Latest Tips (click here to see Archive)